Ketua Umum Amabom Raya: “LDII Kini Lebih Terbuka, Adat Bolmong Raya Makin Bersinergi”

LDII SULUT | Lembaga Dakwah Islam Indonesia Provinsi Sulawesi Utara

Ketua Umum Amabom Raya: “LDII Kini Lebih Terbuka, Adat Bolmong Raya Makin Bersinergi”

Manado, 27 November 2025 — Kegiatan bedah buku “Nilai-Nilai Kebajikan Jamaah LDII: Dari Amal Saleh hingga Kemandirian” karya Ust. Dr. Ahmad Ali MD, M.A., Dosen Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta, berlangsung hangat dan penuh gagasan di Swiss-Belhotel Manado, tempat para tokoh adat, tokoh agama, akademisi, serta masyarakat berkumpul untuk membahas nilai-nilai kebajikan dalam LDII secara terbuka. Forum ini menjadi ajang penting untuk memperkuat komunikasi antar elemen masyarakat di Sulawesi Utara, termasuk dari wilayah Bolaang Mongondow Raya.

Pada forum dialog tersebut, Drs. H. Z.A. Jemmy Lantong, S.H., Ketua Umum Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mongondow Raya (Amabom Raya), tampil memberikan pandangan mendalam mengenai perjalanan panjang persepsinya terhadap LDII. Ia mengaku telah mengenal keberadaan komunitas Islam yang kini dikenal sebagai LDII sejak lebih dari 45 tahun lalu, namun pada masa itu masyarakat masih dipenuhi stigma negatif.

“Saya sudah puluhan tahun di ormas adat, dan 45 tahun lalu saya sudah mendengar tentang Islam, tapi bukan LDII—waktu itu disebut Islam Sipatuo. Bahkan pada tahun 2000 saya punya sawah di samping masjid LDII. Memang stigma yang berkembang saat itu negatif,” ungkapnya di hadapan peserta di Swiss-Belhotel Manado.

Perubahan persepsinya mulai terjadi setelah ia banyak berinteraksi langsung dengan warga LDII, terutama melalui sosok Ust. Nasrullah Shifa, yang menurutnya memiliki pribadi santun, cerdas, dan mudah bergaul.

“Perilaku warga LDII selama ini banyak terwakili oleh adinda Nasrullah Shifa. Saat diskusi kampus, dia sangat jago dan bahkan ditunjuk menjadi asisten dosen. Waktu itu dia menjabat Sekretaris LDII Kotamobagu. Yang kami rasakan sebenarnya tidak seperti stigma negatif yang berkembang di masyarakat,” jelasnya.

Jemmy juga memberi masukan kepada penulis agar kajian mengenai LDII dapat lebih menyentuh lapisan masyarakat adat, khususnya di Bolaang Mongondow Raya, karena menurutnya nilai kebersamaan dan kebajikan LDII memiliki dampak positif jika dipahami masyarakat hingga tingkat bawah.

Ia turut menegaskan bahwa nilai kebersamaan dalam LDII justru menjadi inspirasi bagi komunitas adat.
“Kebersamaan di LDII itu menginspirasi kami. Jiwa aktivis dan kritis mereka itu bagus sekali,” tegasnya.

Jemmy kemudian mengisahkan kedekatannya dengan dua tokoh muda LDII yang ia kagumi: Nasrullah Shifa dan Choir Mayyasya Rochmat.
“Tokoh muda LDII yang saya kenal ini—Nasrullah Shifa dan Choir—adalah pejuang dan petarung LDII. Mereka memberi contoh baik bagaimana LDII hidup berdampingan dengan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga berharap hubungan yang sudah terjalin baik antara LDII dan Amabom Raya terus berlanjut, termasuk di bawah kepengurusan LDII yang baru.
“Saya berharap hubungan ini terus terjaga dan semakin kuat. Amabom Raya siap bersinergi dengan LDII dalam menjaga adat dan keharmonisan masyarakat Bolaang Mongondow Raya,” pungkasnya.

Kegiatan bedah buku ini menegaskan bahwa dialog terbuka adalah kunci memahami realitas secara jernih sekaligus meruntuhkan prasangka. Sinergi antara LDII dan Amabom Raya menjadi salah satu buah penting dari forum yang sarat gagasan ini.

Penulis :
Apt. Ridwan D. Kristanto, S.Farm.
Wakil Sekretaris DPW LDII Sulawesi Utara
KIM/Lines Sulut